mekanisme pengontrolan tekanan darah dan antihipertensi

Terapi Hipertensi yang Direkomendasikan dalam JNC 8

Share this :

Di Indonesia, penanganan hipertensi umumnya mengacu pada guideline Joint National Committee (JNC) 8 yang dipublikasikan pada tahun 2014. Salah satu topik yang dibahas dalam JNC 8 adalah terapi hipertensi yang dianjurkan pada pasien hipertensi dewasa.

Hipertensi adalah salah satu penyakit kardiovaskular yang kasusnya sering ditemukan di fasilitas layanan kesehatan. Kondisi ini ditandai dengan peningkatan tekanan darah sistolik lebih dari 140 mmHg dan tekanan darah diastolik lebih dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran dengan selang waktu lima menit dalam keadaan istirahat (Kemenkes.RI).

Mekanisme pengontrolan tekanan darah dan mekanisme kerja antihipertensi dapat dijelaskan dalam gambar berikut beserta di mana antihipertensi bekerja.

Mekanisme kerja antihipertensi
Mekanisme kerja antihipertensi

Berikut adalah beberapa kelas obat terapi hipertensi menurut Joint National Committee (JNC) 8.

terapi hipertensi yang direkomendasikan dalam JNC 8
terapi Obat hipertensi

1. Angiotensin Converting Enzyme inhibitor (ACEi)

Terapi hipertensi yang direkomendasikan dalam JNC 8 adalah Angiotensin Converting Enzyme inhibitor. ACEi akan merunkan tekanan perifer dengan menghambat kerja angiotensin converting enzyme sehingga konversi angiotensin I menjadi angiotensin II tidak terjadi. Contoh obat golongan ini adalah captopril, enalapril, lisinopril. Efek samping yang sering terjadi saat mengkonsumsi obat golongan ini adalah batuk kering karena ACEi akan memicu penurunan bradikinin (alergen) sehingga timbul batuk kering, biasanya dokter akan meresepkan antitusif di samping obat golongan ini untuk mengurangi efek samping tersebut.

2. Angiotensin Reseptor Blocker (ARB) / Angiotensin II Receptor Antagonists

Terapi hipertensi menurut JNC 8 selanjutnya adalah Angiotensin Receptor Blocker. ARB bekerja dengan menghalangi angiotensin II untuk menempati reseptor angiotensin sehingga aldosteron tidak terbentuk. Contoh obat golongan ARB adalah Eprosartan, valsartan, irbesartan, losartan, candesartan.

Baca juga: Ketahui Bahaya Asam Lemak Trans Bagi Kesehatan, Konsumsi Gorengan Jadi Sumber Utamanya

3. Beta blocker (BB)

BB memiliki mekanisme kerja antihipertensi dengan menghambat aktivitas sistem saraf simpatik dan menghambat pelepasan renin di ginjal sehingga menurunkan cardiac output. BB dibagi menjadi dua, Beta bloker selektif dan non selektif. BB non selektif dapat memblok semua reseptor beta baik di jantung (beta 1) maupun di bronkus (beta 2), contoh obat BB nonselektif adalah propanolol. BB selektif yaitu hanya menghambat reseptor beta 1 saja sehingga tidak mempengaruhi beta 2 di bronkus, contoh obat BB selektif adalah atenolol. BB yang direkomendasikan dalam JNC 8 adalah Atenolol dan Metoprolol.

4. Calcium Channel Blocker (CCB) / Antagonis Ca

Mekanisme kerja antihipertensi CCB dengan menghambat pemasukan ion Calsium sehingga penyaluran impuls Atrio Ventrikluer (AV) diperlambat. Contoh obat goongan CCB yang direkomendasikan dalam JNC 8 adalah Amlodipin, Diltiazem extended release, Nitrendipine.

5. Diuretik golongan thiazid

Obat golongan Thiazid akan meningkatkan eksresi air dan natrium, sehingga volume darah menurun. Diuretik thiazid yang direkomendasikan dalam JNC 8 adalah Bendroflumethiazide, Chlorthalidone, Hydrochlorothiazide, Indapamide.

Meskipun pemberian antihipertensi dilakukan dalam upaya menurunkan tekanan darah, modifikasi gaya hidup bagi penderita hipertensi tetap harus dilakukan. Dalam JNC 7 disebutkan terapi non farmakologis pagi penderita hipertensi yang dapat dilakukan adalah menurunkan berat badan dengan membatasi asupan kalori dan melakukan aktivitas fisik (olahraga ringan), adopsi pola makan DASH (Dietary
Approaches to Stop Hypertension
) seperti sayur dan buah, susu rendah lemak yang kaya potassium dan kalsium, membatasi asupan garam harian sebagai bagian pola makan sehat, melakukan aktivitas fisik dalam upaya menurunkan tekanan darah sistolik dengan intensitas sedang, membatasi konsumsi alkohol, dan yang terakhir adalah berhenti merokok untuk menjaga kesehatan kardiovaskular secara keseluruhan.

Baca juga : 8 Makanan Penyebab Tensi Tinggi Yang Perlu anda Perhatikan

Referensi :

Kemenkes.RI. Pusdatin Hipertensi. Infodatin, (Hipertensi), 1–7.

Muhadi, 2016. Penanganan Pasien Hipertensi Dewasa”JNC 8: Evidence-based Guideline”. Jurnal CDK-236/ vol. 43 no. 1


Share this :

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *