cara pemberian obat

Rute dan Cara Pemberian Obat, Lengkap dengan Pembahasannya

Share this :

Cara pemberian obat sangat penting karena menentukan kecepatan dan kelengkapan absorpsinya. Pemilihan cara pemberian obat pada pasien tergantung dari kondisi kesehatan pasien, sifat fisiko-kimia obat dan efek yang diinginkan seperti efek sistemik maupun efek lokal.

Cara Pemberian Obat : Efek Sistemik

1. Oral

Pemberian obat melalui mulut atau per oral adalah cara yang paling lazim karena sangat praktis, mudah dan aman. Namun, tidak semua obat dapat diberikan secara oral, misalnya obat-obat tertentu yang dapat diuraikan atau rusak oleh asam lambung seperti benzilpenisilin, insulin, oksitosin dan berbagai macam hormon.

cara pemberian obat oral efek sistemik

Seringkali, absorpsi obat setelah pemberian secara oral tidak teratur dan tidak dalam jumlah yang utuh, meskipun formulasi sudah dirancang seoptimal mungkin. Hal ini dikarenakan obat yang telah diserap di usus akan di bawa ke hati. Di dalam organ hati, seluruh atau sebagian obat mengalami perubahan kimiawi secara enzimatik (sitokrom P450) dan pada umumnya, hasil perubahannya yang berupa metabolit menjadi kurang aktif atau bahkan tidak aktif, proses ini sering disebut detoksifikasi atau bioinaktivasi. Tidak hanya mengalami bioinaktivasi, beberapa obat memiliki efek farmakologis yang diperkuat setelah melalui proses bioaktivasi di hati.

2. Sublingual

Cara pemberian obat sublingual dengan cara menempatkan obat di bawah lidah. Hal ini bertujuan agar obat dapat segera diabsorpsi oleh selaput lendir di sekita lidah dan masuk ke dalam vena atau pembuluh darah. Keuntungan pemberian obat secara sublingual adalah obat dapat langsung ke peredaran darah besar tanpa melalui hati. Contoh pemberian obat secara sublingual adalah pada kasus serangan angina dan asma yang memerlukan efek yang cepat. Hanya obat-obat yang bersifat lipofil yang dapat diberikan dengan cara ini.

3. Injeksi

cara pemberian obat intramuskular efek sistemik
Injeksi intramuskular

Pemberian obat ini sering disebut dengan parenteral (yang berarti di luar usus). Secara umum, cara ini dipilih bila diinginkan efek yang cepat atau untuk obat-obat yang dapat rusak oleh asam lambung seperti hormon, dan untuk obat-obat yang tidak diabsorpsi di usus seperti streptomisin.

Sediaan parenteral juga diberikan pada pasien yang tidak sadarkan diri atau tidak responsif.

Kekurangan cara pemberian obat dengan cara injeksi adalah :

  1. Diperlukannya orang yang terlatih untuk pemberian secara injeksi
  2. Rasa nyeri pada lokasi penyuntikan
  3. Harga sediaan parenteral yang relatif mahal
  4. Sukar menghilangkan efek fisiologisnya jika obat sudah beredar di sirkulasi sistemik.

Baca juga : Mengenal Farmakologi, Ilmu Penting Dalam Dunia Farmasi

Rute-Rute Spesifik dalam Sediaan Parenteral

  1. Subkutan, injeksi di bawah kulit dapat dilakukan hanya dengan obat yang tidak merangsang dan dapat melarut dengan baik dalam air dan minyak.
  2. Intrakutan, disuntikan ke dalam kulit. Contoh tes alergi antibiotik dan tes mantoux.
  3. Intramuskular (i.m), injeksi di dalam otot dengan tujuan untuk memperpanjang kerja obat.
  4. Intravena (i.v), injeksi langsung ke dalam pembuluh darah dan menghasilkan efek yang paling cepat di banding rute yang lain. Tetapi lama kerja obat biasanya singkat.
  5. Intra-arteri, injeksi ke dalam pembuluh nadi (arteri) yang akan membawa obat langsung ke dalam organ sasaran.
  6. Intralumbal atau Intratekal, injeksi langsung ke dalam kantung lumbal (sumsum tulang belakang).
  7. Intraperitonial, injeksi ke dalam rongga perut atau penyuntikan langsung ke dalam organ abdominal seperti hati, ginjal atau kandung kemih.
  8. Intrapleural, injeksi ke selaput paru-paru atau ke dalam rongga selaput dada.
  9. Intra-artikular, injeksi ke dalam kantong sinovial atau ke celah-celah sendi.

4. Implatasi Subkutan

Digunakan untuk obat dengan efek sistemik yang lama dengan cara memasukan obat ke bawah kulit menggunakan alat khusus. Contoh implantasi subkutan adalah pemberian hormon estradiol , testosteron dan KB implan.

5. Rektal

Rektal adalah pemberian obat melalui rektum (dubur) yang umumnya berbentuk suppositoria. Obat ini digunakan untuk pasien mual muntah atau pasien yang tidak memungkinkan untuk menelan obat, dan untuk efek lokal yang cepat misalnya obat pencahar. Pemberian obat secara rektal tidak melalui first pass effect karena vena yang ada di dalam rektum tidak tersambung pada sistem porta sehingga obat tidak mengalami perombakan di hati.

Cara Pemberian Obat : Efek Lokal

1. Intranasal

Intranasal merupakan pemberian obat melalui hidung (biasanya dalam bentuk sediaan tetes hidung). Mukosa di hidung dapat menyerap obat dengan baik dan memberi efek setempat atau lokal. Namun ada juga obat yang diberikan secara intranasal untuk tujuan efek sistemik, misalnya kortikosteroid (beklometason, flunisolida).

2. Intraokular (mata) dan Intra-aurikular (telinga)

pemberian obat tetes telinga efek lokal
Pemberian obat tetes telinga

Sediaan yang digunakan umunya dalam bentuk tetes mata/telinga dan salep. Digunakan untuk mengatasi infeksi dan inflamasi pada mata/telinga. Penggunaan perlu diwaspadai karena obat dapat di absorpsi ke dalam darah dan menimbulkan efek toksik (atropin).

3. Inhalasi (intrapulmonal)

Sediaan yang umum digunakan adalah aerosol dan juga sebuk halus yang diberikan dengan disemprotkan ke dalam mulut menggunakan obat khusus. Obat akan diabsorpsi melalui mukosa mulut, tenggorokan dan saluran nafas. Contoh obat yang diberikan secara inhalasi adalah anastesi, dan obat-obat asma.

4. Intravaginal

Sediaan yang umum digunakan adalah salep, dan ovula yang dimasukan ke dalam vagina. Contohnya pemberian metronidazol dengan tujuan untuk mengobati vaginitis (radang vagina) yang disebakan oleh infeksi parasit trichomonas dan Candida.

5. Kulit (topikal)

cara pemberian obat efek lokal

Sediaan yang umum digunakan berupa salep, krim atau losion. Kulit yang sehat atau normal bersifat impermeabel atau sulit ditembus oleh obat karena kulit memiliki lapisan epidermis yang cukup tebal, namun dalam kondisi kulit yang mengalami kerusakan akan lebih mudah untuk menyerap obat. Penyerapan obat ini biasanya melalui lapisan tandung (paling banyak), pori-pori dan kelenjar rambut. Dalam jumlah yang besar, obat akan memberi efek sistemik.

Referensi :

Tjay, T. H. (2015). Obat-obat Penting Edisi ketujuh. Elex Media Komputindo.


Share this :

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *